Kamis, 26 Mei 2011

Tasawuf dan Cara Pandang Interdisipliner

DR. KH. Said Aqil Siraj *)

Saat ini, agaknya dirasakan baik dalam teoritis maupun praktis, membuncahnya pola pemikiran yang cenderung bersifat sporadis, hiperspesialis, sektarian, dan skismatis.
Akibatnya, kenyataan yang terpampang terlihat “miris” dan tak rentan dari bentuk-bentuk sikap dan perilaku yang afinitatif dan bahkan konfliktual. Tentu saja, ini amat jauh dari kerinduan abadi (gharizah) bagi setiap individu untuk mencitakan kehidupan yang harmonis, rukun-sejahtera, dan penuh dengan cinta kasih.

Abu Nawas Penyair Yang Sufi


Ilahii, lastu lilfirdausi ahlaa. Walaa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi, Fahab li tawbatan waghfir dzunuubi.Faninaka ghaafirud dzanbil adziimi
Tuhanku, Hamba tidaklah pantas menjadi penghuni surga (Firdaus).  Namun, hamba juga tidak kuat menahan panas api neraka. Maka berilah hamba tobat dan ampunilah hamba atas dosa-dosa hamba.  Karena sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Mahaagung
Dua bait syair di atas tentu sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia terutama kaum tradisionalis Islam. Beberapa saat menjelang shalat Magrib atau Subuh, jemaah di masjid-masjid atau musala di pedesaan biasanya mendendangkan syair tersebut dengan syahdu sebagai puji-pujian. Konon, kedua bait tersebut adalah hasil karya tokoh kocak Abu Nawas. Ia adalah salah satu penyair terbesar sastra Arab klasik. Abu Nawas juga muncul beberapa kali dalam kisah 1001 Malam.
Bagi masyarakat Islam Indonesia, nama Abu Nawas atau Abu Nuwas juga bukan lagi sesuatu yang asing. Abu Nawas dikenal terutama karena kelihaian dan kecerdikannya melontarkan kritik-kritik tetapi dibungkus humor. Mirip dengan Nasrudin Hoja, sesungguhnya ia adalah tokoh sufi, filsuf, sekaligus penyair. Ia hidup di zaman Khalifah Harun Al-Rasyid di Baghdad (806-814 M).